Melasti Awali Ritual Hari Raya Nyepi

Kompas.com - 14/03/2010, 07:27 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Upacara Melasti atau Melis, Mekiyis, Sabtu (13/3/2010), mengawali ritual perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932 yang akan jatuh pada Selasa pekan depan.

Umat Hindu di Bali berduyun-duyun mendatangi laut dan sumber air lainnya untuk nganyudang malaning gumi ngamit tirta amertha, yaitu menghanyutkan segala kotoran dalam kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau, dan sumber lainnya sebagai simbol penyucian diri, batin, dengan memohon kepada Sang Sumber Kehidupan.

Warga Denpasar dan Kabupaten Badung bagian utara, misalnya, sejak pagi secara bergantian melakukan upacara Melasti di Pantai Padanggalak dan Pantai Sanur yang terletak di pesisir timur Kota Denpasar. Sementara warga Badung bagian selatan melaksanakan hal serupa di Pantai Kuta.

Dengan berpakaian mayoritas warna putih, mereka berduyun-duyun mendatangi kawasan pantai dengan mengendarai sepeda motor, mobil, dan truk terbuka.

Kepala Pecalang (pengaman desa) Tonja, Denpasar Timur, Made Sumerta, mengungkapkan, setiap tahun desanya melaksanakan ritual Melasti di Padanggalak bersama belasan desa lain di Denpasar dan Badung bagian utara. ”Jadwalnya sudah ditentukan melalui forum khusus antardesa sehingga tidak terjadi penumpukan (di tempat itu). Koordinasi juga dilakukan dengan kepolisian sehingga kelancaran lalu lintas ataupun keamanan selama upacara terjaga,” katanya.

Kemarin juga merupakan hari raya Tumpek Landep yang selalu jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku Landep. Pada Tumpek Landep, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi yang diyakini telah menganugerahkan kecerdasan atau ketajaman pikiran sehingga mampu menciptakan teknologi atau benda-benda yang dapat mempermudah dan memperlancar hidup. Dalam konteks saat ini, hal itu antara lain terwujud dalam benda, seperti sepeda motor, mobil, mesin, dan komputer.

Lomba ogoh-ogoh

Selain Melasti, ada tiga upacara lain terkait Nyepi, yakni Tawur Kesanga, Yoga Samadhi, dan Ngembak Geni. Tawur Kesanga diisi dengan prosesi mengusung ogoh-ogoh (patung raksasa yang terbuat dari kertas) hingga malam sebelum Nyepi tiba atau disebut malam pengerupukan. Di pengujung acara itu ogoh-ogoh dibakar sebagai perwujudan pengusiran roh jahat.

Yoga Samadhi terwujud pada empat hal, yakni pantang menyalakan api, menghentikan aktivitas kerja, pantang menghibur diri, dan pantang bepergian.

Sementara Ngembak Geni diisi maaf-maafan dengan handai tolan dan tetangga terdekat.

Tahun lalu, arak-arakan ogoh-ogoh dilarang karena bersamaan dengan pelaksanaan Pemilu 2009. Pertimbangannya, antara lain, untuk keamanan. Tahun ini, Pemerintah Kota Denpasar rencananya akan menggelar cipta karya ogoh-ogoh yang diikuti organisasi pemuda-pemudi di masing-masing desa.

Humas Pemerintah Kota Denpasar Erwin Suryadharma mengatakan, final acara cipta karya ogoh-ogoh akan digelar besok dan dipusatkan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Semua ogoh-ogoh selanjutnya diarak pada malam sebelum Nyepi tiba.(BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau